by

Mengenal Warna, Sejarah, dan Keistimewaan Mencium Hajar Aswad

Hajar Aswad merupakan batu yang menjadi tujuan kebanyakan muslim ketika menunaikan ibadah haji. Sebab, Pemerintah Arab Saudi sudah merilis foto Hajar Aswad dengan resolusi tinggi. Penampakan Hajar Aswad tersebut diambil dengan menggunakan teknologi Focus Stack Panorama serta memiliki resolusi sangat tinggi sebesar 49.000 megapiksel dan dijepret sebanyak 1050 foto dengan proses pengerjaan selama 50 jam. Dirilisnya foto Hajar Aswad tersebut tentunya sangat memuaskan umat Muslim di seluruh Dunia. Kamu juga tentunya penasaran kan seperti apa penampakan Hajar Aswad tersebut?

Berikut dibawah ini akan diperkenalkan mengenai warna, sejarah, dan keistimewaan mencium Hajar Aswad:

  1. Warna Hajar Aswad Awalnya Putih

Kalangan umat Muslim menyebut juga Hajar Aswad ini dengan nama Batu Hitam, meski sebenarnya terdapat corak kemerahan pada warnanya. Terdapat riwayat yang mengatakan bahwa awalnya Hajar Aswad berwarna putih, namun lama kelamaan warnanya berubah menjadi hitam kemerah-merahan.

Terkait dengan bentuknya, Hajar Aswad memiliki ukuran sebesar 30 cm dan bentuknya oval. Batu mulia kebanggaan umat Muslim ini diletakkan disudut timur sisi luar Ka’bah.

  1. Sejarah Hajar Aswad

Sebenarnya sejarah Hajar Aswad ini tersedia dalam beberapa versi. Umat Islam menyakini bahwa Hajar Aswad ini ditemukan oleh Nabi Ibrahim AS dan anaknya, Nabi Ismail AS ketika mereka mencari batu untuk membangun Ka’bah.

Sementara itu, ada banyak saintis di bidang geologi yang berusaha untuk meneliti tipe dan asal muasal Hajar Aswad, namun mereka tidak kunjung menemukan kesimpulan lantaran adanya larangan budaya dan agama untuk mengotak-atik Hajar Aswad.

Dan karena hal itu juga jenis bebatuan dari Hajar Aswad ini juga masih belum benar-benar jelas. Umumnya, Hajar Aswad dideskripsikan sebagai batu basal, agate, serta yang paling populer adalah meteorit.

Sejumlah peneliti yang mempelajari asal muasal Hajar Aswad ini adalah Thomsen dalam jurnalnya dengan judul New Light on the Origin of the Holy Black Stone of the Ka’ba (1980) dan Dietz & McHone dalam jurnal mereka dengan judul Kaaba Stone : Not A Meteorite, Probably an AGATE (1974).

Meski begitu, tetap saja belum ada kesimpulan yang pasti mengenai jenis bebatuan Hajar Aswad ini.

  1. Keistimewaan Mencium Hajar Aswad

Saat melakukan thawaf ketika ibadah haji, umat Islam disunnahkan untuk mencium Hajar Aswad atau mengangkat tangan yang disebut dengan istilah Istilam ke arahnya. Menurut sebuah buku disebutkan bahwa di hari kiamat nanti, Hajar Aswad akan memberikan kesaksian terhadap orang-orang yang melakukan Istilam terhadapnya. Karena itu, bagi mereka yang pernah mencium ataupun mengangkat Hajar Aswad, maka mereka akan diberi syafaat di hari akhir.

Meski memiliki keistimewaan bagi yang dapat menciumnya, namun perlu diingat kembali bahwa hukum mencium Hajar Aswad ini sunnah. Bagi yang tidak bisa menyentuh atau menciumnya, cukup menyentuhnya dengan menggunakan tongkat atau semacamnya, kemudian cium bagian yang tersentuh. Atau bisa juga memberi isyarat dengan takbir dan tangan.

Jadi, tidak perlu berdesak – desakan memaksakan diri untuk mencium Hajar Aswad ketika melakukan ibadah haji.

Seperti diriwayatkan Umar Bin Khattab saat mencium Hajar Aswad, bahwa dirinya menciumnya semata-mata karena mengikuti apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Artinya : “Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan mudhorot (bahaya), tidak bisa pula mendatangkan manfaat. Seandainya bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” (HR. Muslim)

Itulah warna, sejarah, dan keistimewaan mencium Hajar Aswad. Batu Hajar Aswad memang menyimpan banyak sekali misteri yang belum terungkap hingga saat ini.